
Catatan Redaksi – Pagi menapak dingin di Jalan Hasanudin, Kelurahan Batu Hitam, Kecamatan Bunguran Timur. Tepat pada Selasa, 28 Juli 2026, roda motorku beringsut pelan, sebelum akhirnya terhenti oleh sebuah pemandangan yang meremukkan dada di tengah aspal.
Sebuah kantong plastik hitam robek menganga. Isinya berserakan tanpa ampun: butiran beras putih yang tercampur debu jalanan, genangan minyak goreng yang mengalir sia-sia, serta cangkang telur yang pecah berkeping-keping dengan kuningnya yang meleleh sia-sia.

Tidak ada orang. Tidak ada pemilik yang berdiri bingung meratapi musibah kecil itu.
Kemungkinan besar, si pemilik tidak menyadari barang bawaannya melompat dari motor. Atau, ia sadar, sangat sadar namun malu setengah mati untuk memungutnya kembali di tengah jalan raya. Ataukah memang semuanya sudah hancur, tak lagi bisa diselamatkan untuk sekadar mengganjal perut yang lapar bagi dirinya dan keluarga di rumah?
Pikiran langsung melayang pada kenyataan pahit di Natuna hari ini. Di tanah perbatasan ini, ada realitas kelam di mana ada warga hanya mampu membeli beras secara eceran, sekilo demi sekilo, demi menyambung hidup hari ini tanpa tahu esok bagaimana.

Siapa yang salah?
Apakah kecerobohan tangan yang kurang erat mengikat kantong? Ataukah ini sekadar ujian berat yang ditimpakan Sang Pencipta?
Beribu tanya berdesakan di kepala, tanpa satupun muara jawaban.
Kutatap sekali lagi sisa-sisa bahan dapur yang malang itu. Kuambil kantong kresek, lalu kubersihkan butiran beras yang masih bisa diselamatkan dari kotornya aspal. Bukan untuk dimasak, ia sudah terlalu kotor. Kuberikan beras itu kepada seorang kawan yang memelihara ayam, sekadar menjadikannya pakan agar tak ada lagi yang mubazir di bumi ini. (Tj)