Pompong Nelayan Hancur Hantam Karang di Serasan, Ketua HNSI Serasan Haiironi Apresiasi Aksi Cepat Tanggap Nelayan Desa Kerdau dan Desak Bantuan Pemerintah

Pompong Nelayan Hancur Hantam Karang di Serasan, Ketua HNSI Serasan Haiironi Apresiasi Aksi Cepat Tanggap Nelayan Desa Kerdau dan Desak Bantuan Pemerintah

​NATUNA — Musibah laut kembali terjadi di perairan Kecamatan Serasan. Sebuah pompong nelayan bermuatan GT 2 ton milik Alendra, warga Desa Batu Berian, hancur berkeping-keping dan tenggelam setelah menabrak karang tajam di sekitar perairan Pulau Kerdau pada Minggu sore (4/10/2026) sekira pukul 16.00 WIB.

​Peristiwa nahas tersebut bermula ketika Alendra hendak pulang ke Desa Batu Berian usai merampungkan aktivitasnya mencari gurita. Naas, saat melintas di titik koordinat 02°41.413′ N 108°52’405′ E (atau 02°41’24.80″ N 108°52’24.31″ E), kapal ikan yang dikemudikannya menghantam karang. Benturan hebat membuat lambung kapal pecah dan tenggelam bersama seluruh hasil tangkapan gurita yang dibawanya.

​Beruntung, maut berhasil dihindari berkat kesigapan nelayan asal Desa Kerdau. Tanpa buang waktu, para nelayan setempat langsung bergerak cepat memberikan pertolongan darurat dan mengevakuasi Alendra keluar dari zona bahaya sebelum akhirnya mengantarkannya kembali ke Desa Batu Berian.

Pompong Nelayan Hancur Hantam Karang di Serasan, Ketua HNSI Serasan Haiironi Apresiasi Aksi Cepat Tanggap Nelayan Desa Kerdau dan Desak Bantuan Pemerintah
Alendra tak berbaju berhasil diselamatkan oleh nelayan Kerdau 

​Menanggapi insiden ini, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Serasan, Haironi, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada para nelayan Desa Kerdau. Menurutnya, solidaritas dan kecepatan bertindak para nelayan di lapangan telah menyelamatkan satu nyawa manusia dari ancaman maut di tengah laut.

​”Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada rekan-rekan nelayan dari Desa Kerdau. Aksi cepat tanggap dan jiwa solidaritas tinggi yang mereka tunjukkan membuktikan bahwa semangat kebersamaan antarnelayan di Serasan masih sangat kuat. Berkat pertolongan mereka, nyawa saudara kita Alendra dapat diselamatkan,” ujar Haironi dengan tegas.

​Kendati demikian, Haironi juga menyoroti beratnya dampak kerugian yang harus ditanggung oleh korban. Mengingat pompong tersebut merupakan satu-satunya tumpuan nafkah bagi keluarga Alendra untuk bertahan hidup, ia dengan tegas mendesak Pemerintah Daerah agar segera turun tangan memberikan perhatian nyata.

​”Alendra kini kehilangan mata pencaharian utamanya. Pompong berukuran GT 2 ton itu adalah modal satu-satunya untuk mencari nafkah. Kami mendesak Pemerintah Daerah melalui instansi terkait agar segera memberikan uluran tangan dan bantuan darurat bagi korban, sehingga ia dapat kembali melaut dan menafkahi keluarganya,” pungkas Haironi. (Tj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *