
NATUNA — Kondisi Pasar Rakyat Ranai, Kabupaten Natuna, kian memprihatinkan. Sepinya pembeli yang memicu anjloknya omzet hingga lebih dari 60 persen, diperparah oleh minimnya perhatian dan ketimpangan penyaluran bantuan dari pemerintah daerah. Akibatnya, tak sedikit pedagang yang gulung tikar dan meninggalkan lapak mereka.
Kondisi merosotnya perekonomian pasar ini disuarakan langsung oleh para pedagang sayur kepada media Natindonews.com pada Rabu (6/8/2026).
Aida, salah satu pedagang sayur di area luar gedung pasar, membeberkan betapa terpukulnya pendapatan mereka saat ini.
”Dulu, omzet harian saya bisa mencapai Rp1,2 juta per hari. Sekarang, dapat Rp400 ribu saja sudah mentok. Turunnya luar biasa drastis,” ungkap Aida meratapi kondisi pasar yang kian lengang.
Meski pendapatan merosot tajam, kewajiban membayar biaya sewa lapak sebesar Rp150 ribu per bulan tetap harus ia penuhi. Situasi ini kian pelik karena program bantuan pendanaan dari pemerintah daerah seolah tak pernah menyentuh pedagang kecil seperti dirinya.

”Kami tahu ada kabar soal bantuan dana UMKM tanpa bunga dari Pemda. Tapi kenyataannya, tidak pernah ada sosialisasi sama sekali ke kami pedagang sayur. Kami sangat membutuhkan bantuan itu agar modal tetap berputar dan pasar bisa bergairah kembali,” tegasnya.
Kondisi serupa dialami pedagang di dalam gedung pasar. Ibu Saragih, yang menyewa meja jualan seharga Rp250 ribu per bulan,
menuturkan bahwa gedung pasar kini makin melompong karena ditinggalkan para pedagang.
”Di dalam sini sama sepinya. Dulu ada sekitar 80 lapak terisi penuh. Sekarang paling tersisa 40 lapak yang bertahan. Banyak yang pilih berhenti berjualan karena sudah tak sanggup menutup operasional akibat sepi pembeli,” beber Ibu Saragih.
Ia juga menagih janji Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Natuna terkait program pinjaman modal tanpa bunga yang sebelumnya sempat disosialisasikan.
”Waktu itu dari Dinas Perindag sendiri yang sosialisasi soal pinjaman modal tanpa bunga. Tapi sampai sekarang mana? Hanya manis di awal, tidak pernah terealisasi. Kami tunggu-tunggu tanpa kepastian,” cetusnya.
Tak hanya soal janji manis, para pedagang sayur menyuarakan kekecewaan atas dugaan diskriminasi dalam penyaluran bantuan pemerintah. Bantuan dianggap hanya mengalir deras ke sektor tertentu.
”Pedagang ikan berkali-kali dapat bantuan, baik dari Pemda Natuna maupun dari Pemerintah Provinsi. Sementara kami pedagang sayur tidak pernah dilirik sama sekali. Padahal kami sama-sama mengadu nasib dan mencari makan di pasar yang sama,” ujar Aida dengan nada gusar.
Para pedagang kini mendesak Pemerintah Kabupaten Natuna beserta Disperindag untuk tidak tinggal diam dan segera turun ke lapangan melihat kenyataan pahit yang mereka hadapi.
”Kami tidak minta aneh-aneh. Kami cuma minta keadilan dan kejelasan bantuan modal. Jangan biarkan Pasar Rakyat Ranai mati perlahan,” pungkas Ibu Saragih.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi Natindonews.com masih berupaya melakukan konfirmasi resmi kepada pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Natuna guna meminta klarifikasi terkait realisasi dan ketepatan sasaran program bantuan UMKM tanpa bunga tersebut. (Tj)