
NATUNA — Kelanjutan kabar baik menyusul insiden kecelakaan laut di perairan Kecamatan Serasan. Pompong nelayan bermuatan GT 2 ton milik Alendra, warga Desa Batu Berian yang sebelumnya hancur menabrak karang di perairan Pulau Kerdau pada Minggu sore (4/10/2026), akhirnya berhasil dievakuasi dan ditarik menuju daratan Desa Batu Berian, Senin (5/10/2026).
Proses evakuasi bangkai kapal yang penuh tantangan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Serasan, Haironi. Dengan menggandeng semangat gotong royong, Haironi bersama beberapa pompong nelayan setempat bahu-membahu menarik sisa badan pompong yang karam agar bisa dibawa pulang untuk segera diperbaiki.
Keberhasilan evakuasi ini tidak lepas dari kuatnya ikatan kekeluargaan antarnelayan di Serasan. Mengandalkan beberapa armada pompong bantuan dari rekan-rekan nelayan, proses penarikan bangkai kapal dilakukan dengan penuh kehati-hati mengingat kondisi lambung kapal yang sudah pecah berkeping-keping akibat benturan keras dengan karang tajam di koordinat 02°41.413′ N 108°52’405′ E.
Sesampainya di Desa Batu Berian pada Senin sore, bangkai pompong langsung diamankan di daratan. Meskipun kondisinya mengalami kerusakan parah di bagian lambung dan seluruh hasil tangkapan gurita sebelumnya telah hilang tenggelam, keberhasilan menyelamatkan rangka kapal memberikan secercah harapan bagi korban.

Ketua HNSI Serasan, Haironi, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas suksesnya proses evakuasi ini. Ia kembali memuji kekompakan para nelayan yang terus mendampingi Alendra sejak hari kejadian hingga bangkai kapalnya berhasil ditarik ke kampung halaman.
”Alhamdulillah, berkat kerja sama dan bantuan kawan-kawan nelayan hari ini, pompong milik Saudara Alendra berhasil kita evakuasi dan tarik ke Desa Batu Berian. Setidaknya sisa kerangka ini bisa kita upayakan untuk diperbaiki kembali,” ujar Haironi, Senin (5/10/2026).
Kendati bangkai kapal telah berhasil diamankan di darat, Haironi tetap menegaskan kembali desakannya kepada Pemerintah Daerah. Mengingat biaya perbaikan atau penggantian komponen pompong yang cukup besar, uluran tangan dari instansi terkait sangat dinantikan agar Alendra bisa segera kembali mencari nafkah di laut.
”Evakuasi ini adalah langkah awal yang meringankan beban fisik di lapangan. Namun, untuk perbaikan total agar bisa melaut kembali, tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Kami sekali lagi berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna dapat segera memberikan bantuan nyata bagi Alendra dan keluarganya,” pungkas Haironi. (Tj)