10,49% di Kertas, Rintihan UMKM di Lapangan: Mana Gebrakan Nyata Cen Sui Lan?

10,49% di Kertas, Rintihan UMKM di Lapangan: Mana Gebrakan Nyata Cen Sui Lan? OPINI, NATINDONEWS.COM – Angka bisa menipu. Bupati Natuna Cen Sui Lan bangga mengumumkan pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 10,49% berdasar data BPS. Grafiknya menjulang. Tapi coba turun ke pasar Ranai, tanya ke gerobak bakso, ke toko kain, ke pengasap ikan. Jawabannya beda: ekonomi lagi lesu, napas usaha makin pendek.

Itulah riak kecil di permukaan yang memberi tanda arus di bawahnya tidak sedang kuat.

10,49% itu cantik di atas kertas. Tapi Cen Sui Lan sendiri mengakui angka itu “naik” karena sektor migas dimasukkan. Lepas migas, denyut ekonomi riil Natuna melemah sejak pertengahan 2025. Data makro melesat, tapi dompet warga seret.

Sri Lestari, penjual bakso-mie ayam 15 tahun di Ranai, merasakan paling telak. Dulu omzet hariannya Rp5-6 juta. Sekarang? “Separuhnya saja tidak ada”. Arus pendapatan yang dulu deras, kini tinggal tetesan.

Efendi dari Toko Angkasatex juga senada. Ramadan yang biasanya banjir pembeli, tahun ini sepi. “Mungkin karena pendapatan masyarakat juga turun.” Pasar tidak seramai dulu. Daya beli runtuh duluan sebelum grafik BPS naik.

Masalahnya bukan cuma sepi pembeli. Wasli, perajin ikan asap, bilang ongkir ke luar daerah bisa lebih mahal dari harga barang. Jalan terbuka, tapi biaya jadi tembok. Bujang Taridi, pembuat kerupuk atom, mengaku permintaan masih ada tapi ia tak bisa penuhi karena modal dan ongkir mencekik. Dewi Aminah tambah lagi: barang datangnya bisa sebulan. Roda usaha berputar lambat, modal mampet.

Di tengah itu, Pemda Natuna memang punya program: pinjaman mikro tanpa bunga sampai Rp20 juta lewat Bank Riau Kepri Syariah, margin disubsidi daerah. Sejak akhir 2025 berjalan. Tapi yang ambil cuma 20 nasabah. Padahal UMKM Natuna tembus 7.000 unit.

Pengamat Aripin menusuk: “Kalau ekonomi bagus, pinjaman itu pasti sudah dimanfaatkan. Tapi kenyataannya belum.” Artinya, pelaku usaha masih ragu. Mereka tidak butuh utang kalau pasarnya mati.

Kepala Disperindagkop Marwan Sjah Putra jujur: anggaran pembinaan UMKM terbatas. Kadisnaker Indra Joni juga bilang, pagu RUP 2026 cuma Rp1,56 miliar. Pelatihan ada, tapi “langkahnya belum cukup panjang untuk menjangkau semua kebutuhan”.

BACA JUGA:  Menginspirasi dari Perbatasan, Animasi 'Sans Mutty' Karya Anak Natuna Sukses Pikat Penonton Global

Nah di sinilah ujian kepemimpinan Cen Sui Lan. Klaim pertumbuhan tinggi sudah dilontarkan. Tapi gebrakan nyata yang menyentuh 7.000 UMKM belum terasa. Warga butuh lebih dari data. Mereka butuh investor masuk, pabrik berdiri, lapangan kerja kebuka. Seperti kata Sri Lestari: “Kalau ingin maju, harus ada pabrik supaya ada lapangan kerja.

Komitmen Cen Sui Lan menguatkan ekonomi kerakyatan kini sedang diuji. Kesenjangan antara 10,49% di grafik dan rintihan UMKM di lapangan terlalu lebar untuk diabaikan. Redaksi sudah minta tanggapan beliau soal langkah konkret ke depan, tapi hingga berita ini terbit, jawaban belum datang. Ruang tanya itu masih menggantung.

Natuna butuh lebih dari angka cantik. Butuh kebijakan yang bikin omzet Sri Lestari naik lagi, ongkir Wasli turun, dan modal Bujang Taridi cair. Tanpa itu, 10,49% hanya jadi monumen statistik, bukan kesejahteraan.

Apakah Cen Sui Lan akan menjawab tantangan ini dengan gebrakan nyata? Warga Natuna menunggu. Dan waktu tidak bisa disubsidi seperti margin bank. (Penulis Edi Suroso)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *