Menghidupkan Sunnah Merawat Ukhuwah, Pawai Telur Merah Serasan, Simbol Cinta Abadi pada Rasulullah SAW

 

Menghidupkan Sunnah Merawat Ukhuwah, Pawai Telur Merah Serasan, Simbol Cinta Abadi pada Rasulullah SAW

​SERASAN — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Serasan senantiasa menjadi agenda tahunan yang sarat makna dan terus dipertahankan oleh masyarakat setempat secara turun-temurun. Salah satu tradisi unik yang menjadi ciri khas dalam perayaan ini adalah pawai telur merah, yang tidak hanya dilestarikan di kampung halaman, tetapi juga dibawa oleh masyarakat Serasan di perantauan.

​Tokoh masyarakat Serasan, Fadillah, yang akrab disapa Bang Keloh, mengungkapkan bahwa rangkaian acara Maulid Nabi dilaksanakan secara berkesinambungan setiap tahunnya.

​”Peringatan Maulid Nabi ini memang dilaksanakan setiap tahun. Setelah pawai, selama kurang lebih satu minggu kegiatan dilanjutkan secara bergantian di setiap masjid. Hari ini mungkin di masjid A, besok di masjid B. Di setiap masjid dilaksanakan zikir bersama dan makan bersama,” ujar Fadillah.

​Tradisi pawai telur merah ini turut dijaga oleh masyarakat Serasan yang tinggal di sejumlah daerah perantauan, seperti Tanjungpinang, Ranai, hingga berbagai kota lainnya. Hal tersebut menjadi bukti nyata komitmen warga Serasan untuk tetap menjaga akar budaya dan identitas daerah meskipun berada jauh dari tanah kelahiran.

Menghidupkan Sunnah Merawat Ukhuwah, Pawai Telur Merah Serasan, Simbol Cinta Abadi pada Rasulullah SAW

​”Untuk menjaga dan melestarikan budaya peringatan Maulid ini, masyarakat Serasan yang berada di Tanjungpinang, Ranai, dan beberapa kota lainnya juga melaksanakan pawai telur merah. Ini menunjukkan bahwa orang Serasan, baik yang berada di kampung maupun di perantauan, selalu ingin melaksanakan dan mempertahankan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,” tambahnya.

​Lebih lanjut, Fadillah menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi tidak sekadar memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW semata. Lebih dari itu, momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi serta merawat kebersamaan antarwarga di setiap kampung.

​”Peringatan Maulid Nabi ini bukan hanya sekadar memperingati hari kelahiran Nabi, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antar masyarakat di setiap kampung,” ungkapnya.

​Semangat gotong royong dan kerja sama yang kuat di tengah masyarakat dinilai menjadi kunci utama kelestarian tradisi ini. Mulai dari pawai, zikir bersama, hingga tradisi makan bersama dapat terus berlangsung setiap tahun berkat partisipasi aktif warga.

​”Ini merupakan bentuk gotong royong dan kerja sama masyarakat. Mudah-mudahan sampai kapan pun generasi muda kita tetap mampu melaksanakan dan melestarikan budaya peringatan Maulid Nabi ini,” pungkasnya. (Tj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *