Menembus Batas Net Zero Emission, Strategi Pertumbuhan Ganda Pertamina Mengawal Transisi dan Ketahanan Energi

Menembus Batas Net Zero Emission, Strategi Pertumbuhan Ganda Pertamina Mengawal Transisi dan Ketahanan Energi

Foto Ilustrasi

Oleh: Edi Suroso

JAKARTA – Lanskap energi global berada di persimpangan jalan krusial: dunia menuntut penurunan emisi karbon, sementara Indonesia membutuhkan pasokan energi yang stabil untuk pertumbuhan ekonomi. Menjawab dilema ini, PT Pertamina (Persero) melangkah di garis depan lewat cetak biru masa depan: “Energizing Innovation”.

​Langkah ini adalah evolusi organik dari DNA perusahaan. Sejak manifesto “Pertamina adalah Indonesia” (2014), komitmen ini diperkuat melalui visi “Kemandirian Energi Indonesia” (2015), dan peta jalan “Mewujudkan Kemandirian Energi Nasional” (2016). Kini, di era transisi, komitmen tersebut bertransformasi menjadi Twin Growth Strategy (Strategi Pertumbuhan Ganda)—memaksimalkan bisnis eksisting (fossil fuel) seraya agresif membangun bisnis rendah karbon.

Menembus Batas Net Zero Emission, Strategi Pertumbuhan Ganda Pertamina Mengawal Transisi dan Ketahanan Energi
Kantor Pertamina di Jakarta (Foto Istimewa)

​Pada pilar pertama, Pertamina melakukan dekarbonisasi operasional hulu ke hilir. Melalui teknologi Carbon Capture Storage (CCS/CCUS), pemanfaatan migas tetap berjalan untuk kuota nasional dengan emisi yang ditekan ketat. Di sektor hilir, megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dipacu untuk menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan setara standar Euro V.

​Pada pilar kedua, Pertamina merambah sektor energi baru terbarukan (EBT) secara masif. Mulai dari optimalisasi panas bumi melalui PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk, pengembangan Green Hydrogen, ekosistem baterai kendaraan listrik (EV Battery), hingga komersialisasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur.

​Melansir laporan Kompas.com, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, menegaskan bahwa ketahanan energi tidak boleh dikorbankan demi transisi.

​”Pertamina menerapkan strategi pertumbuhan ganda. Kami tidak bisa langsung mematikan energi fosil karena Indonesia masih membutuhkannya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Yang kami lakukan adalah melakukan dekarbonisasi pada bisnis yang ada, sembari sejajar membangun bisnis hijau masa depan,” ujar Nicke dalam sebuah forum energi nasional.

​Komitmen ini terbukti valid di kancah internasional. Dikutip dari Antara, Nicke juga menyebutkan bahwa inovasi berkelanjutan ini berdampak langsung pada pengakuan global.

​”Penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) di seluruh lini bisnis berhasil menempatkan Pertamina di peringkat atas performa ESG global untuk sektor industri oil & gas,” tambahnya.

Redaksi Natindonews.com menantang batas inovasi Pertamina. Langkah Pertamina menggelar Twin Growth Strategy adalah jalur “jalan tengah” yang realistis dan bertanggung jawab. Namun, redaksi memandang tantangan sesungguhnya adalah bagaimana Pertamina mampu melompat lebih jauh dan menjadi jauh lebih inovatif lagi.

Inovasi ke depan tidak boleh lagi hanya terjebak pada skala uji coba (pilot project) demi pemenuhan regulasi. Pertamina harus berani memimpin komersialisasi teknologi hijau dalam skala raksasa. Produk inovatif seperti bioavtur (SAF) dan ekosistem EV Battery harus segera didorong ke hilirisasi pasar yang kompetitif secara komersial.

​Jika “Nyala Api” inovasi ini terus ditiup melampaui zona nyaman bisnis minyak konvensional, Pertamina tidak hanya akan mengamankan pasokan energi, tetapi juga melahirkan kedaulatan teknologi hijau yang membawa Indonesia menjadi poros energi bersih di Asia Tenggara. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *